Hal serupa juga dirasakan oleh Putri Kusuma Wardani, tunggal putri andalan Indonesia saat ini. Ia tercatat hanya satu kali berhadapan dengan Marín, yaitu pada babak kedua French Open 2023 di Glaz Arena, Cesson-Sévigné, Prancis, dengan hasil kekalahan bagi Putri melalui skor 16-21, 18-21 dalam durasi 47 menit.
Putri mengaku belum pernah berinteraksi langsung dengan Marín, meski menjadikan peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 itu sebagai salah satu pemain yang diidolakannya. Ia juga mengungkapkan rasa sedih setelah mengetahui juara Olimpiade tersebut memutuskan pensiun, tetapi tetap bersyukur pernah berhadapan langsung di lapangan.
Putri, yang baru saja meraih titel runner-up Swiss Open 2026, menilai, Marín memiliki karakter permainan yang sangat kuat, bahkan terkesan agresif saat bertanding. "Sebelum lawan dia aku cuma bisa lihat di luar, kalau dia, kan, arogan sedikit di lapangan, tapi ternyata pas lawan dia emang beneran arogan," tuturnya seraya tertawa kepada wartawan di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Rabu (1/4).
"Memang itu ciri khasnya dia, sih, kayak gitu. Dari fighting spirit aku banyak belajar dari dia," Putri, menambahkan.
Dalam unggahan tentang Marín pada Februari lalu, mantan pebulu tangkis Inggris yang kerap menjadi komentator pertandingan untuk BWF, Gillian Clark, menilai Marín adalah sosok yang yakin pada diri sendiri. Kepercayaan diri yang ditunjukkannya tak jarang dianggap berlebihan, seiring dengan ekspresi emosionalnya berupa teriakan saat mendapatkan poin. "Namun, tak ada yang bisa membantah ketangguhan dan prestasinya yang luar biasa patut dihargai," kata Clark, dilansir Kompas, Sabtu (28/3).
Marín, 32 tahun, resmi menyatakan pensiun pada Kamis (26/3). Ia membatalkan rencananya tampil di European Championships 2026 yang akan digelar di kampung halamannya di Huelva, Spanyol, 7–12 April, yang semula direncanakan sebagai penampilan terakhirnya sebelum pensiun.


