Farid harus bekerja keras sebelum memastikan gelar juara setelah menundukkan wakil PB Djarum, Ghoffur Dermawan Wicaksono, lewat pertarungan tiga gim dengan skor 15-21, 21-18, 21-14. Ia mengaku kesulitan menghadapi permainan Ghoffur pada gim pertama, tetapi mampu bangkit dan membalikkan keadaan hingga akhirnya mengamankan kemenangan serta meraih podium tertinggi.
"Saya belum memahami pola permainannya. Cukup butuh waktu juga untuk adaptasi dengan lapangan juga," katanya kepada Djarum Badminton.
"Menurut saya lumayan susah mengalahkan Ghoffur. Defense-nya juga rapat," Farid, menambahkan.
Farid menyatakan, gelar juara tersebut dipersembahkan untuk keluarga, pelatih, serta pengurus klub yang telah mendukungnya. Ia juga menatap seri berikutnya di Samarinda dengan harapan dapat meraih hasil yang lebih baik.
Sementara itu, Hafizah mengalahkan rekan satu klubnya, Mikha Ribka Kasalang, melalui tiga gim 17-21, 21-15, 16-21. Hafizah menyebut, kendala terbesar yang dihadapi dalam pertandingan final tersebut, khususnya pada gim kedua, adalah kondisi lapangan yang berangin. "Saya benar-benar cukup kesulitan mengembangkan permainan, tapi tadi saya mencoba bermain sabar, tetap tenang, dan fokus untuk dapat satu poin demi satu poin," tuturnya.
Ia merasa senang atas keberhasilannya meraih gelar juara, yang merupakan kali pertama dalam kariernya, serta menyebut kedua orang tuanya sebagai sosok yang turut berperan dalam pencapaian tersebut.


