"Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki kalau untuk melawan top empat karena menurut saya benar-benar yang masih belum bisa dilewati adalah mereka di empat besar," tuturnya kepada tim Humas dan Media PP PBSI, seusai laga yang berakhir dengan skor 11-21, 14-21 tersebut.
Kedua pemain saling berbalas poin pada awal gim pertama hingga skor imbang 6-6. Setelah itu, An mulai mengambil alih kendali permainan dan memperlebar jarak hingga memimpin 11-6 pada interval dalam tempo delapan menit. Dominasi wakil negeri ginseng itu kian terlihat pada paruh kedua gim pertama dengan keunggulan terbesarnya pada skor 16-6. An akhirnya menutup gim pertama dengan kemenangan 21-11 setelah kok dari pukulan menyilang Putri melebar di luar lapangan.
Peraih medali emas Olimpiade Paris 2024 itu kembali menguasai jalannya pertandingan pada gim kedua. Ia unggul enam poin saat interval dengan skor 11-5, terus memperlebar jarak keunggulan hingga mengantongi tujuh match point, lalu menutup gim kedua dengan kemenangan 21-14. "Tadi benar-benar dari konsistensi sama berpikir di lapangannya harus benar-benar kuat dan saya belum berhasil melakukan itu. Jadi bisa kayak dua-tiga poin, lalu hilangnya banyak banget," ungkap Putri.
"Di dua pertemuan terakhir, perlawanan saya belum seperti saat di World Tour Finals 2025. Kami sudah sering bertemu dan pasti belajar kebagusan, kelemahan masing-masing. An Se Young pasti belajar dan begitu juga saya. Tapi cara mematikan dia yang saya belum menemukan lagi caranya," jelas atlet yang juga berprofesi sebagai polisi ini.
Meski langkahnya terhenti di perempat final, Putri mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari penampilannya di All England. Ia menilai, laga melawan An menjadi pelajaran penting, terutama dalam hal pola pikir dan menjaga konsistensi permainan di lapangan. "Cara bermainnya tidak hanya mematikan lawan tapi juga bisa membuat lawan mati sendiri," pungkasnya.


