Wang, unggulan kedua pada turnamen bulu tangkis level BWF World Tour Super 1000 ini, mengalahkan unggulan teratas An melalui dua gim langsung dengan skor akhir 21-15, 21-19 dalam tempo 59 menit. Inilah kemenangan kelimat bagi Wang dalam 23 pertemuan dengan pebulu tangkis tunggal putri nomor satu dunia tersebut.
"Saya sangat senang. Saya masih tidak percaya bisa memenangkan pertandingan ini. Di lapangan, saya hanya berusaha fokus pada strategi yang sudah disiapkan. Hal terpenting bagi saya adalah tetap percaya pada diri sendiri, dan kemenangan ini sangat berarti karena memberi saya lebih banyak kepercayaan diri dan motivasi," jelas Wang, dikutip dari jejaring sosial All England.
Sementara itu, dua rekan senegara Wang, Liu Sheng Shu/Tan Ning, juga untuk pertama kalinya menjuarai All England setelah mengalahkan wakil Korea Selatan, Baek Ha Na/Lee So Hee. Pasangan peringkat satu dunia tersebut menang dua gim langsung 21-18, 21-12 dalam durasi 59 menit. Kemenangan ini sekaligus membuat Liu/Tan unggul dengan sembilan kemenangan dari 15 pertemuan melawan pasangan negeri ginseng tersebut.
Sejarah bagi Taiwan pada turnamen yang memasuki edisi ke-116 ini dimulai ketika Ye/Nicole mengalahkan wakil Prancis yang juga pasangan unggulan kelima, Thom Gicquel/Delphine Delrue. Pertarungan ketat berdurasi 46 menit itu berakhir dengan kemenangan dua gim 21-19, 21-18. "Kami belum pernah menang melawan mereka sebelumnya. Jadi, kemenangan ini terasa luar biasa dan sangat emosional bagi kami. Saya sampai banyak berteriak setiap kali meraih poin," kata Ye melaui laman Federasi Bulu Tangkis Dunia.
Atlet berusia 26 tahun itu menyatakan rasa gembira atas kemenangan tersebut. Ia mengaku biasanya tidak berteriak di lapangan, tetapi pada poin-poin penentu ia merasa sangat gugup sehingga perlu meluapkan emosinya dengan berteriak agar bisa tetap fokus melanjutkan permainan. "Saya tidak bermain terlalu baik di gim pertama. Namun, partner saya mengatakan bahwa lawan kami sebenarnya lebih gugup daripada kami. Hal itu membantu saya untuk lebih tenang, sehingga saya bisa bermain jauh lebih baik menjelang akhir pertandingan," Ye, mengungkapkan.
Euforia kemenangan bersejarah bagi Taiwan berlanjut pada partai berikutnya melalui keberhasilan Lin mengalahkan Lakshya Sen dengan skor 21-15, 22-20 dalam durasi 57 menit. Setelah melalui satu pekan yang melelahkan di Birmingham, kecepatan, stamina, ketepatan, dan kekuatan mentalnya terbukti terlalu tangguh bagi wakil India tersebut. "Memang benar saya sangat lelah, tetapi ada satu poin saat dia memainkan bola dan saya membalasnya. Saya sangat kesal pada diri sendiri karena poin itu seharusnya mengakhiri pertandingan," katanya.
"Biasanya, saya akan sangat peduli dengan kesalahan itu, dan membiarkannya memengaruhi saya. Tetapi hari ini saya berpikir, oke, dua poin lagi, tenang dan fokus saja pada poin berikutnya," Lin, menambahkan
"Memenangkan All England adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi saya. Saya masih ingat saat masa Covid-19, ketika hanya bisa menonton rekan-rekan setim bertanding di turnamen ini melalui televisi. Saat itu saya merasa sangat bersemangat. Dari awalnya hanya menonton, hingga kini bisa bermain dan bahkan memenangkannya, rasanya sungguh luar biasa," tutur peraih titel juara India Open 2025 ini.
Gelar juara ganda putra kembali menjadi milik Kim Won Ho/Seo Seung Jae, yang berhasil mempertahankan gelar setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik, di partai final. Duel antara unggulan pertama dan unggulan kedua tersebut berlangsung ketat hingga harus melalui rubber game, yang berakhir dengan skor 18-21, 21-12, 21-19 dalam tempo 63 menit.


